Untuk pengguna Avast Antivirus, harap matikan dahulu untuk mengakses web ini. Terima Kasih

Minggu, 22 April 2012

Bayi : Akulah Sang Detektor Kebohongan


“Soal kata, lidah bisa bohong. Soal rasa lidah gak bisa bohong”

Pernah mendengar kalimat diatas sebelumnya? Ya, disalah satu iklan mie bermerk (inisial S) tentu sudah familiar. Adegan “kocak” saat seseorang diinterogasi……..!? (:D haha gak tau lagi deh lupa, dikosan ga da tv).

Disini saya tidak share tentang makanan, apalagi mie, tapi share tentang “Bagaimana kita tahu bahwa seseorang itu berbohong atau tidak?”

Sudah bukan hal yang asing lagi ketika kita mendengar poligraf. Poligraf atau yang populer disebut sebagai detektor kebohongan adalah sebuah mesin/alat yang dipakai untuk "membaca" perubahan psikologis pada tubuh jika seseorang berbohong. Caranya adalah dengan melihat perubahan tekanan darah, resistansi listrik pada kulit, adanya keringat berlebih, serta kecepatan degup jantung dan pernapasan, yang akan direkam secara digital atau di atas kertas. Diyakini bahwa kondisi tubuh seseorang yang berbohong akan berbeda dari kondisi tubuh orang yang berkata jujur.

Stop! Bukan tentang poligrof juga yang ingin saya share (maksud na naon sih si “nurul hidayah” teh?)
 
Sabar, sabar :). Ternyata ada detektor kebohongan lain yang bukan terbuat dari mesin, yaitu “bayi”. Loh? (jangan-jangan adik saya juga bisa ya?)

Bayi, lebih cerdas dari yang kita pikirkan. Sebuah penelitian baru menemukan bahwa bayi yang berusia kurang dari setahun bisa mengetahui orang dewasa bisa dipercaya atau tidak. Penelitian itu diungkapkan di Infant Behavior and Development.

"Bahkan di usia yang masih belia, anak-anak tidak menelan informasi dengan membabi buta," kata Diane Poulin-Dubois, ketua peneliti dan guru besar psikologi di Pusat Penelitian Perkembangan Manusia Universitas Concordia. Informasi yang meragukan atau berlawanan secara otomatis disaring oleh sistem kognisi anak-anak.

Untuk menentukan apakah bayi-bayi itu mencerna mentah-mentah atau melihat kredibilitas orang di sekitarnya, Poulin-Dubois dan koleganya melakukan sebuah percobaan menarik yang melibatkan 60 bayi berusia antara 13 dan 16 bulan.

Sebagian bayi itu berinteraksi dengan orang dewasa "yang bisa dipercaya", sisanya berinteraksi dengan orang dewasa "yang tak bisa dipercaya". Mereka bermain dengan kotak yang dalam beberapa kasus berisi mainan dan lainnya kosong.

Pada percobaan pertama, orang dewasa akan melihat di dalam kotak dan menampakkan keceriaan dan kebahagiaan. Kemudian bayi-bayi itu suruh melihat ke dalam kotak untuk mengetahui apa yang membuat orang dewasa bermimik seperti itu.

Orang dewasa "yang tidak dipercaya" berkomentar "ooo" dan "ah" jika melihat kotak kosong, sementara orang dewasa "yang bisa dipercaya" membuat keributan hanya jika di dalam kotak ada mainan.

Percobaan kedua menggunakan pasangan bayi-orang dewasa yang sama. Kali ini orang dewasa menggunakan dahi selain tangannya untuk menyalakan sebuah lampu. Idenya adalah bahwa bayi yang percaya kepada teman orang dewasanya akan mencoba meniru perilaku mereka.

"bayi-bayi lebih suka menggunakan dahi mereka"

Benar saja, bayi-bayi lebih suka menggunakan dahi mereka untuk menyalakan lampu saat mereka bermain permainan "apa yang ada di dalam kotak?" dengan orang dewasa "yang bisa dipercaya" dibandingkan ketika mereka bermain dengan orang dewasa "yang tidak bisa dipercaya".

Untuk anak kecil, itu semua berkaitan dengan bagaimana bertahan hidup. "Kita adalah makhluk sosial dan keturunan manusia tergantung pada pengasuh mereka untuk waktu yang lama. Belajar dari orang lain merupakan kunci untuk belajar budaya tetapi hal itu mengandung risiko juga seperti informasi yang tidak tepat.

Kemampuan untuk melacak orang-orang 'tidak biasa' atau 'tak bisa dipercaya' menjadi senjata untuk melindungi bayi-bayi itu saat memperoleh informasi salah," jelas Poulin-Dubois.

Nah, mulai sekarang berhati-hati deh, jangan suka membohongi anak kecil, ya bila tidak mau dicap orang yang tak bisa dipercaya.

Kembali lagi pada diri kita masing-masing. Just share. See ya next week. :)
Dari berbagai sumber


Nurul Hidayah Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar