Untuk pengguna Avast Antivirus, harap matikan dahulu untuk mengakses web ini. Terima Kasih

Jumat, 10 Agustus 2012

Cerpen: LANGKAH HIDUP SEORANG MUSLIMAH



Menginjak usianya yang ke-21, aku berhasil menyelesaikan kuliah di sebuah Universitas terbeken di Jakarta. Dengan selesainya kuliah tersebut, rasa lega pun menyemai dalam dadaku, tiada beban mata kuliah yang membelenggu dan menjemukan kini berakhirlah sudah.


Inginnya siih... s’telah lulus aku ikut kursus menjahit atau memasak untuk mempersiapkan diri dalam hidup berumah-tangga, hanya keinginan aku tidak sesuai dengan keinginan orang tuaku, mereka menginginkan aku jadi wanita karier yang sukses.  Bahkan kedua orang tuaku yang akhirnya sibuk mencarikan aku pekerjaan, meskipun aku bersikap acuh dengan semua itu. Yaaa...karena orang tua aku dipandang orang yang mampu oleh orang lain, maka tak heran jika tawaran pekerjaan datang dari berbagai sektor. Salah satu yang ditawarkan oleh ibuku yaitu aku disodori untuk mengajar di SMP. Tapi setiap ibuku menyodorkan pekerjaan, setiap kali itu pula aku menolaknya, hingga habis kesabaran orang tuaku. “huhh...k’npa siihh...kalo mau diem dirumah saja, dulu kamu pake kuliah segala...? ngabis-ngabisin uang dan waktu saja...!!!” kata-kata itulah yang akhirnya keluar dari mulut ibuku.

Orang tuaku juga tergolong cukup ulet, hingga tak bosan mereka membujuk serta sedikit memaksa aku untuk berkarier. Akhirnya karena aku merasa gak enak dan hanya sekedar buat menyenangkan kedua orangtuaku, dengan berat hati aku menerima tawaran terakhir  yang disodorkan ibuku untuk mengajar di SMA Islam.

Singkat cerita...!!!
Pagi itu, untuk yang pertama kalinya aku berdiri dihadapan wajah-wajah muda yang usia dan fisiknya gak jauh beda denganku.
“assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh...” ucapku mengawali pembicaraan sekaligus membuka pelajaran pada pagi itu. Lantas dengan serempak mereka menjawabnya “wa’alaikumsalam...”. Seraya proses belajar dimulai, aku melihat beberapa anak yang kasak-kusuk dibelakang sambil tersenyum aneh ke arahku, dan terdengar diantara mereka ada yang berbisik...
”Guru baru nie yee...”
“...kenalan dwonk...!!!”
Mendengar suara itu, seketika itu juga aku menjadi gugup dan salah tingkah, mungkin wajahku pun telah berubah, entah merah atau hitam...?
Oh... betapa aku tak gugup, sebab yang menyeletuk seperti itu adalah seorang murid laki-laki  yang setelah aku lihat sepintas seperti bukan anak SMA lagi melainkan kaya sudah lebih dewasa. “astagfirullahan’adiim...” sejenak aku beristigfar dalam hati,
“aaakhh...! baru juga hari pertama aku masuk kelas, sudah banyak mudharatnya, apalagi kalo sudah lama ngajar...”. aku hanya bisa mengeluh dalam hati. Tetapi alhamdlah dengan modal keguruan yang telah aku pelajari, akhirnya berhasil juga mereka yang kasak-kusuk itu aku diamkan. Setelah mereka diam, barulah aku memperkenalkan diri pada mereka.
“nama saya Sussy Lawati, kalian cukup memanggil ibu wati saja...!” ucapnya pada mereka.
“oggah akh..., cakepan dipanggil ibu sussy...” sela muridnya yang agak dewasa itu.
“uuukkhh...nie anak nakal bener...!” rutuknya dalam hati.

Tak sampai di situ saja kelakuan anak itu, lalu ia pun menggerlingkan mata kearahku. Ingin rasanya aku melototin sambil 
menjewer telinganya. Tapi akupun sadar, hal itu tak mungkin bisa aku lakukan.
Bel pun berbunyi, aku keluar dari kelas itu. Ketika itu juga sayup-sayup terdengar suara anak yang nyeletuk “...guru bahasa inggrisnya mungil dan ayu yaaa...” mendengar kata-kata itu, aku hanya bisa beristigfar dalam hati.

Singkat cerita...
Tak terasa tiga bulan sudah aku menjalani karier aku sebagai guru di sekolah ini, namun anehnya aku tak bisa tenang dalam menghadapi bocah-bocah itu dalam kelas. Setiap kali aku masuk kelas, setiap kali itu pula mereka menggodaku habis-habisan. Ketika aku tengah menerangkan satu materi tentang “Present Perfect Tense” ketika itu pula aku melihat di bangku paling ujung seorang anak (Achri) tersenyum-senyum kearahku (tapi bukan memperhatikan pelajaran yang aku sampaikan).
“Achri...coba kerjakan soal yang ada di papan tulis...!!!” bentakku dengan perasaan kesal. Lalu anak itu dengan santai maju sambil berkata se-enaknya “Caileee...Ibu keliatan tambah cuantik aja kalo marah...”
Gerrrrr.......seisi kelas meledak penuh tawa mendengar si Achri yang konyol itu. Dengan kejadian seperti itu, hatiku menjadi panas dipermainkan oleh murid aku sendiri. Hingga habislah kesabaranku. Tanpa aku sadari, aku melampiaskan semua itu dengan cepat-cepat aku bereskan buku-buku yang sempat aku keluarkan, lalu dengan suara yang keras dan tegas aku berkata...”Sekarang Ibu tidak akan mengajar lagi...!!! ibu repot mengajar anak-anak yang kurang baik dan sopan seperti kalian...”. suasana kelas yang tadinya ceria, tiba-tiba berubah hening. Aku melihat si Eko salah satu murid dikelas itu, ia menundukan kepalanya, sementara si Achri yang bikin gara-gara terlihat ketakutan.
“Sungguh baru kali ini aku lihat mereka ketakutan seperti kucing disiram air...” ujar aku pelan.

Di antara wajah-wajah bocah yang tengah ketakutan itu, aku melihat seraut wajah bening yang tengah tersenyum bahagia. Wajah itu seakan puas dengan ucapanku untuk tidak mengajar lagi. Seketika wajah itu berubah gugup ketika dia tau aku melihat kearahnya, lantas dengan sikapnya yang berwibawa itu, ia menundukkan wajahnya untuk menghilangkan rasa malu.
Keputusan ku untuk tidak mengajar lagi udah bulat, aku siap ibuku mau berkata apapun atas keputusanku yang katanya konyol dan tolol ini. Akupun sadar mungkin ibuku belum begitu paham tentang mudharatnya wanita yang keluar rumah tanpa kepentingan yang syar’i.
Singkat cerita...
Ketika aku tangah asyik duduk di beranda, ketika itu pula seseorang berteriak... ”pos...pos...pos...”  aku segera bangkit dan menghampiri pak pos sambil berucap terimakasih. Setelah ku lihat, ternyata surat itu ditujukan untuk aku. Segera  aku masuk rumah dan aku buka amplop itu dengan penuh hati-hati dan kubaca deretan huruf-huruf yang menghiasi kertas putih tersebut.

Buat Ibuku
Di tempat

Assalamu’alaikum...
Wahai Ibu, saya niatkan menulis surat ini benar-benar karena Allah, terus terang saya bahagia Ibu tidak mengajar kami lagi, karena saya tak rela wajah Ibu dipandangi ‘begitu rupa’ oleh teman laki-laki. Dan saya tak tega mendengar suara Ibu yang 
seharusnya tak diumbar(karena aurat) dihabiskan untuk berteriak-teriak di depan kelas. Tetaplah Ibu di rumah seperti yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Wassalamualaikum...

Dari Al Bachri
(ananda XII IPA)

Aku terhenyak setelah membaca surat itu, ada segores malu dan pedih yang tiba-tiba menyelinap. Lalu surat itu pun aku simpan baik-baik sebagai kenangan dari seorang murid yang baik dan berani mengkritik gurunya.

Hari-hari berlalu bulan dan tahun pun terbilang menurut hukum yang telah digariskan Allah SWT., kini tiga tahun sudah peristiwa surat itu berlalu dan hampir saja luput dari ingatanku. Namun Allah SWT berkehendak lain, Ia menghendaki aku untuk mengenang kembali peristiwa itu yang sudah lewat tiga tahun yang lalu.
Yaaa... aku harus mengenangnya kembali surat itu, karena pemilik surat itu kini berada dirumahku dan tengah menghadapi kedua orang tuaku untuk bergegas meminangku. Sungguh...serasa hampir copot jantungku ketika aku tau kalo yang bergegas meminangku adalah orang yang dulu pernah menjadi murid aku. Namun apa hendak dikata ‘nasi telah menjadi bubur’. Sebelumnya aku tidak menyangka sedikitpun kalo bekas muridku sendiri yang akan melamarku, rasa malu pun yang aku rasakan kian menjadi-jadi.
“haruskah aku menjadi istrinya...?” aku bertanya pada diriku sendiri, sementara usiaku dua tahun lebih tua dibanding dia.

Kala itu pula aku tersenyum kembali ketika aku ingat kata-kata Al Bachri dalam suratnya, “wahai ibu...saya tak rela wajah ibu dipandangi begitu rupa oleh teman-teman, tetaplah ibu berada di rumah seperti yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya...”
Kini dihatiku pun tumbuh sebuah jawaban  atas isi surat serta lamarannya, meskipun dengan berjuta rasa malu, “Ya...Akhi Insya Allah saya siap menjadi istrimu...!”.


Bandung, 19 Desember 2011
Achmad Ridwanuloh
ica elriyashi2 Web Developer

Morbi aliquam fringilla nisl. Pellentesque eleifend condimentum tellus, vel vulputate tortor malesuada sit amet. Aliquam vel vestibulum metus. Aenean ut mi aucto.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar